Mengorbankan Karakter Membuat Indonesia Gagal
| Sumber : Google |
Kemampuan Indonesia yang di anggap sudah mampu menyetuh level Asia, itu terbukti dari pertandingan pertandingan sebelumnya dengan mengalahkan Chinese Taipei, Uni Emirat Arab, dan kalah dari Qatar dan dengan pertandinganya kemaren melawan jepang mendapat tekanan dengan skor 1 - 6 mampu kembali bangkit dengan memberikan tekanan menjadi 5 - 6 .
Namun, sulit untuk tidak mengatakan bahwa Garuda Muda – julukan Timnas U-19 kehilangan hal paling esensial dalam laga hidup mati menghadapi raksasa Jepang di babak perempat final yang digelar di hadapan lebih dari 60 ribu suporter yang hadir di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (28/10).
Esensi yang krusial itu adalah karakter. Karakter yang membawa Timnas U-19 berhasil menapakkan kaki ke babak delapan besar sekaligus membuka peluang untuk sampai ke Piala Dunia U-20 yang digelar di Polandia tahun depan.
Dan karakter itu seakan “hilang” saat Indonesia menghadapi Jepang. Dan, pada akhirnya membuat Indonesia harus menyerah 0-2 dan harus menggigit jari karena menghadapi kenyataan yang sama dari tahun ke tahun.
Mari kita membuka lembaran statistik untuk melihat betapa Indra Sjafri seperti tidak percaya dengan karakter permainan – yang justru membawa timnya lolos dari fase penyisihan – saat laga babak pertama kontra Jepang.
Labbola mencatat bahwa di fase penyisihan Indonesia selalu unggul dalam penguasaan bola. Yakni 64 persen kontra Taipei, 69 persen versus Qatar, dan 53 persen saat menghadapi Uni Emirat Arab.
Catatan itu disertai pula dengan keunggulan jumlah serangan di mana Indonesia melakukan 24 tembakan ke gawang Taipei di mana 13 di antaranya tepat sasaran. Hasilnya, Indonesia menang 3-1.
Menghadapi Qatar, Indonesia mengumpulkan sebelas tembakan dengan delapan di antaranya mengarah ke gawang. Hasilnya adalah lima gol setelah tertinggal 1-6.
Kontra Uni Emirat Arab, Indonesia melakukan 12 tembakan dengan delapan di antaranya menyasar gawang. Dan Indonesia mengalahkan Uni Emirat Arab 1-0 sekaligus meloloskan diri ke fase gugur.
Kenyataan itu berbanding terbalik ketika Indonesia menghadapi Jepang. Dengan skema 3-5-2, Indra Sjafri menerapkan pendekatan bertahan dan tak mempertahankan seleranya untuk menguasai bola sebagaimana yang ditunjukkan timnya di fase penyisihan.
“Ada respon taktikal yang kami lihat dari hasil pertandingan Jepang dan itu perlu direspons dengan memainkan tiga bek tengah dimana salah satunya berfungsi sebagai libero untuk menetup celah penetrasi dan throw pass yang dilakukan mereka,” kata Indra usai laga.
Sumber : Akurat.co

Comments
Post a Comment